Membaca Risiko Konflik Global 2026–2030
Dalam beberapa tahun terakhir, pertanyaan mengenai kemungkinan Perang Dunia ke-3 kembali muncul dalam diskusi geopolitik global. Konflik Rusia–Ukraina, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, serta rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China membuat banyak pengamat bertanya apakah dunia sedang bergerak menuju konflik global yang lebih besar.
Di internet dan media sosial, pertanyaan seperti “apakah perang dunia ke-3 akan terjadi” atau “apakah dunia menuju WW3” semakin sering muncul. Lonjakan pencarian tersebut biasanya terjadi setiap kali konflik geopolitik besar meningkat, mencerminkan kecemasan publik terhadap ketidakstabilan global.
Dalam abad ke-20, dua perang dunia mengubah struktur politik dan ekonomi internasional secara drastis. Karena itu, setiap peningkatan konflik antar kekuatan besar selalu memunculkan kembali pertanyaan mengenai kemungkinan terjadinya perang global.
Namun dalam analisis geopolitik yang lebih serius, pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan melihat perkembangan konflik harian. Untuk memahami apakah dunia benar-benar menuju perang global atau hanya menghadapi peningkatan ketegangan internasional, kita perlu melihat struktur sistem internasional: hubungan antar kekuatan besar, dinamika energi global, serta perubahan dalam ekonomi dunia.
Artikel ini mencoba membaca pertanyaan tersebut secara lebih struktural. Alih-alih sekadar berspekulasi tentang perang dunia, tulisan ini mengkaji faktor-faktor geopolitik yang dapat meningkatkan atau justru menahan kemungkinan eskalasi konflik global serta menilai seberapa besar potensi perang dunia 3 dalam sistem internasional saat ini.
📊 Catatan Metodologi Analisis
Untuk memastikan objektivitas dan kedalaman analisis, artikel ini menggunakan pendekatan berikut:
- Sumber Data: Uppsala Conflict Data Program (UCDP), Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), IMF, World Bank, CSIS, dan laporan resmi pemerintah.
- Kerangka Teoritis: Realisme struktural, kompleks interdependensi, dan deterrence theory.
- Batasan Analisis: Fokus pada tren sistemik dan probabilistik kualitatif, bukan prediksi deterministik formal.
- Pembaruan: Analisis ini merupakan living document yang akan direvisi berkala seiring perkembangan dinamika global.
Tim Riset MCE Press | Terakhir diperbarui: 2024

Beberapa konflik regional di berbagai kawasan dunia—mulai dari Eropa Timur (Rusia-Ukraina), Timur Tengah (Israel-Iran), hingga Indo-Pasifik (Taiwan/Laut China Selatan)—membentuk lanskap geopolitik yang kompleks. Sumber: CSIS, ISW, diolah MCE Press.
Sebagian dinamika konflik yang dibahas dalam artikel ini juga terhubung dengan analisis sebelumnya di MCE Press, termasuk pembahasan mengenai Eskalasi AS–Israel–Iran 2026: Awal Pergeseran Tatanan Global?, Energi Dunia di Titik Rawan: Seberapa Vital Selat Hormuz?, serta risiko ekonomi global dalam Gelombang Inflasi Kedua? Risiko Stagflasi Global 2026–2027.
Bagaimana Artikel Ini Membaca Risiko Perang Dunia 3
Untuk membaca kemungkinan konflik global, artikel ini menggunakan pendekatan analisis geopolitik yang melihat sistem internasional secara struktural.
Pendekatan ini tidak hanya melihat konflik yang sedang terjadi, tetapi juga dinamika yang membentuk stabilitas global dalam jangka panjang.
Secara umum, ada empat lapisan analisis yang digunakan dalam membaca risiko konflik global:
- Struktur kekuatan global, yaitu hubungan antara kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat, China, Rusia, serta berbagai aliansi internasional.
- Konflik regional strategis, termasuk kawasan yang memiliki potensi eskalasi tinggi seperti Eropa Timur, Timur Tengah, dan Indo-Pasifik.
- Faktor ekonomi dan energi global, yang sering kali menjadi sumber tekanan geopolitik di balik konflik internasional.
- Mekanisme stabilitas global, seperti deterrence nuklir, interdependensi ekonomi, serta diplomasi internasional yang dapat menahan eskalasi konflik besar.
Dengan melihat berbagai faktor tersebut secara bersamaan, kita dapat memahami apakah dunia benar-benar bergerak menuju perang global atau justru memasuki bentuk konflik internasional yang berbeda dari perang dunia di masa lalu.
I. Mengapa Narasi Perang Dunia Ketiga Muncul Kembali
Ada beberapa alasan mengapa narasi mengenai perang dunia kembali muncul dalam diskusi global.

Jumlah konflik bersenjata aktif meningkat dari 36 (2000) menjadi 59 (2023) menurut Uppsala Conflict Data Program. Namun, konflik dengan keterlibatan langsung kekuatan besar tetap terbatas. Sumber: UCDP/PRIO Armed Conflict Dataset, diolah MCE Press.
Pertama, dunia saat ini menghadapi beberapa konflik regional besar secara bersamaan. Perang Rusia–Ukraina di Eropa Timur, ketegangan di Timur Tengah, serta meningkatnya rivalitas di kawasan Indo-Pasifik menciptakan kesan bahwa sistem internasional sedang memasuki fase yang lebih tidak stabil. Menurut Uppsala Conflict Data Program (UCDP), jumlah konflik bersenjata aktif meningkat dari 36 pada tahun 2000 menjadi 59 pada 2023.¹ Namun, konflik dengan keterlibatan langsung kekuatan besar tetap stabil di angka 3-4 konflik per tahun.
Kedua, hubungan antara kekuatan besar dunia semakin kompetitif. Rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China tidak hanya terjadi di bidang militer, tetapi juga dalam perdagangan, teknologi, keamanan, dan pengaruh geopolitik di berbagai kawasan. Analisis mendalam mengenai dinamika ini dapat dilihat dalam artikel Rivalitas Amerika Serikat vs China: Konflik Superpower Abad ke-21.
Ketiga, meningkatnya ketegangan geopolitik juga terjadi bersamaan dengan tekanan ekonomi global. Inflasi tinggi, ketidakpastian pasar energi, serta fragmentasi perdagangan internasional membuat sistem global lebih rentan terhadap guncangan besar.
Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat banyak pengamat mulai mempertanyakan apakah konflik regional yang terjadi saat ini dapat berkembang menjadi konflik global yang lebih luas.
II. Perbedaan Konflik Regional dan Perang Dunia
Meskipun konflik global meningkat, tidak semua konflik besar akan berkembang menjadi perang dunia.
Dalam sejarah modern, perang dunia memiliki karakteristik yang sangat spesifik:
- Keterlibatan langsung beberapa kekuatan besar secara simultan dalam konflik militer terbuka.
- Mobilisasi ekonomi dan industri dalam skala global untuk mendukung perang.
- Perluasan medan konflik ke berbagai kawasan utama dunia (Eropa, Asia, Amerika, dll).
Dalam banyak konflik modern, kondisi tersebut belum sepenuhnya terpenuhi. Banyak konflik tetap berada dalam bentuk perang regional, perang proksi, atau persaingan strategis tanpa konfrontasi langsung antara kekuatan besar.
Sebagai contoh, konflik di Timur Tengah sering kali melibatkan berbagai aktor regional dan global, tetapi tetap berada dalam batas tertentu. Analisis mengenai dinamika konflik ini dibahas lebih jauh dalam artikel Eskalasi AS–Israel–Iran 2026: Awal Pergeseran Tatanan Global?.
Dengan kata lain, meningkatnya konflik global tidak otomatis berarti dunia menuju perang dunia.
III. Faktor yang Dapat Memicu Konflik Global
Meskipun banyak konflik tetap bersifat regional, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko eskalasi global.
1. Keterlibatan Langsung Kekuatan Besar
Risiko konflik global meningkat jika kekuatan besar dunia terlibat secara langsung dalam konflik militer terbuka.
Jika dua atau lebih kekuatan besar berada di medan konflik yang sama, eskalasi dapat berkembang dengan cepat dan sulit dikendalikan. Sejarah menunjukkan bahwa Perang Dunia I dipicu oleh assassinasi di Sarajevo yang kemudian menyeret aliansi Eropa ke dalam konflik, sementara Perang Dunia II bermula dari invasi regional yang kemudian meluas.²
Dalam konteks saat ini, skenario paling berbahaya adalah:
- Konflik Taiwan yang melibatkan AS dan China secara langsung
- Eskalasi NATO-Rusia di Eropa Timur yang melampaui Ukraina
- Konflik Timur Tengah yang menyeret AS dan Iran dalam konfrontasi terbuka
2. Krisis Energi Global
Energi merupakan salah satu faktor paling sensitif dalam geopolitik internasional.
Gangguan pasokan minyak dan gas dapat memicu krisis ekonomi global yang kemudian meningkatkan tekanan politik antar negara. Sektor energi menyumbang sekitar 8% dari PDB global dan mempekerjakan lebih dari 65 juta orang worldwide.³
Kawasan Timur Tengah memainkan peran penting dalam sistem energi dunia. Sekitar 17-20% konsumsi minyak global dan 20% perdagangan LNG melewati Selat Hormuz, menjadikan jalur ini salah satu chokepoint paling kritis dalam geopolitik energi.⁴
Pembahasan lebih mendalam mengenai risiko ini dapat dilihat dalam artikel Energi Dunia di Titik Rawan: Seberapa Vital Selat Hormuz?.
3. Krisis Ekonomi Global
Sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi besar sering kali memperburuk ketegangan geopolitik.
Ketika ekonomi global melemah, persaingan antar negara dapat meningkat karena tekanan domestik. Negara cenderung mengambil kebijakan yang lebih proteksionis atau agresif untuk melindungi kepentingan nasionalnya.
Beberapa indikator ekonomi yang perlu dipantau:
- Rasio utang global terhadap PDB mencapai 336% pada 2023, tertinggi dalam sejarah⁵
- Fragmentasi perdagangan: Ekspor antar blok geopolitik yang berseberangan turun 12% sejak 2020⁶
- Volatilitas harga komoditas: Harga minyak berfluktuasi antara USD 70-120 per barel dalam periode 2022-2024⁷
Risiko inflasi tinggi dan potensi stagflasi global yang dipicu oleh konflik geopolitik dibahas dalam artikel Gelombang Inflasi Kedua? Risiko Stagflasi Global 2026–2027.
IV. Mengapa Banyak Konflik Tidak Berujung Perang Dunia
Meskipun dunia menghadapi berbagai konflik geopolitik, terdapat beberapa faktor yang justru menahan kemungkinan terjadinya perang dunia.
Deterrence Nuklir: Stabilitas Melalui Kehancuran Mutual
Salah satu faktor paling penting adalah keberadaan senjata nuklir.
Negara-negara dengan kemampuan nuklir biasanya sangat berhati-hati untuk menghindari konfrontasi langsung karena risiko kehancuran yang sangat besar.
Data Arsenal Nuklir Global (2024):⁸
| Negara | Hulu Ledak Total | Hulu Ledak Strategis | Status |
|---|---|---|---|
| Rusia | ~5.580 | ~1.710 | Modernisasi aktif |
| Amerika Serikat | ~5.044 | ~1.770 | Modernisasi aktif |
| China | ~500 | ~350 | Ekspansi cepat |
| Prancis | ~290 | ~280 | Stabil |
| Inggris | ~225 | ~120 | Stabil |
| Lainnya* | ~500 | – | India, Pakistan, Israel, Korut |
*Estimasi gabungan
Konsep ini dikenal sebagai Mutually Assured Destruction (MAD), di mana konflik nuklir antara kekuatan besar dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diterima oleh semua pihak. AS dan Rusia bersama-sama menguasai sekitar 90% dari total kapasitas nuklir strategis global, menciptakan stabilitas paradoks melalui ancaman kehancuran bersama.⁹
Interdependensi Ekonomi: Biaya Konflik yang Terlalu Tinggi
Globalisasi ekonomi menciptakan tingkat ketergantungan ekonomi antar negara yang sangat tinggi.
Perdagangan global mencapai USD 32 triliun pada 2023, dengan rantai pasok yang sangat terintegrasi.¹⁰ Estimasi IMF menunjukkan bahwa fragmentasi ekonomi global dapat mengurangi PDB dunia hingga 7% (USD 7,4 triliun), menciptakan insentif kuat bagi negara-negara untuk menghindari konflik militer berskala besar.¹¹
Contoh interdependensi kritis:
- Semikonduktor: Taiwan memproduksi 90% chip paling canggih; gangguan pasokan akan melumpuhkan industri global
- Energi: Eropa masih bergantung pada LNG AS dan Qatar pasca-pengurangan gas Rusia
- Pangan: Ukraina dan Rusia menyuplai 30% gandum global; konflik mengancam ketahanan pangan dunia
Meskipun fragmentasi ekonomi mulai muncul dalam beberapa tahun terakhir (friend-shoring, de-risking), interdependensi global masih menjadi salah satu faktor penting yang menahan eskalasi konflik.
Diplomasi Internasional: Mekanisme Manajemen Krisis
Institusi internasional, aliansi keamanan, serta diplomasi multilateral masih memainkan peran penting dalam mencegah eskalasi konflik besar.
Mekanisme diplomasi yang masih berfungsi:
- Saluran komunikasi krisis: Hotline Washington-Moskow, dialog militer AS-China yang dipulihkan 2023
- Forum multilateral: PBB, G20, ASEAN Regional Forum tetap menjadi platform dialog
- Aliansi manajemen konflik: NATO, QUAD, Shanghai Cooperation Organization memiliki prosedur de-eskalasi
Walaupun sistem internasional saat ini menghadapi banyak tekanan, mekanisme diplomasi global tetap menjadi salah satu alat utama untuk mengelola konflik.
V. Mengapa Periode 2026–2030 Menjadi Krusial
Beberapa analis geopolitik melihat periode akhir dekade 2020-an sebagai fase yang sangat menentukan bagi stabilitas sistem internasional.
Ada beberapa alasan mengapa periode ini sering dianggap sebagai titik kritis dalam dinamika geopolitik global.
1. Intensifikasi Rivalitas AS-China
Rivalitas antara Amerika Serikat dan China diperkirakan akan memasuki fase yang lebih intens. Kompetisi antara kedua negara tidak hanya terjadi di bidang ekonomi, tetapi juga dalam teknologi, keamanan, dan pengaruh geopolitik di berbagai kawasan dunia.
Timeline strategis penting:
- 2027: Target modernisasi militer China dalam skenario Taiwan contingency (menurut penilaian intelijen AS)¹²
- 2028: Siklus elektoral presiden AS yang dapat mengubah arah kebijakan luar negeri
- 2030: Target berbagai inisiatif strategis (BRI Phase 2, NATO Capability Targets, China’s 2035 Vision)
Analisis mendalam mengenai dinamika ini dapat dilihat dalam artikel Rivalitas Amerika Serikat vs China: Konflik Superpower Abad ke-21.
2. Transisi Energi dan Tekanan Geopolitik Baru
Perubahan dalam sistem energi global juga berpotensi menciptakan tekanan geopolitik baru.
Faktor kunci:
- Transisi energi: Investasi energi terbarukan global mencapai USD 1,8 triliun pada 2023, namun ketergantungan pada fosil fuel masih tinggi¹³
- Kompetisi mineral kritis: Lithium, kobalt, nikel, dan rare earth menjadi sumber kompetisi strategis baru
- Volatilitas harga: Transisi yang tidak merata dapat menciptakan guncangan pasokan dan harga
3. Faktor Teknologi dan Iklim
Teknologi Disruptif:
- AI militer: Sistem otonom dan decision-support AI dapat mempercepat eskalasi konflik melampaui kemampuan kontrol manusia
- Hypersonic weapons: Rudal hipersonik mengurangi waktu respons, meningkatkan risiko miscalculation
- Cyber warfare: Serangan siber terhadap infrastruktur kritis dapat memicu eskalasi konvensional
Tekanan Iklim:
- Peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering dapat memicu kompetisi sumber daya dan migrasi massal
- Arktik yang mencair membuka jalur perdagangan baru dan kompetisi sumber daya yang berpotensi memicu ketegangan¹⁴
4. Konflik Regional dengan Potensi Eskalasi
Berbagai konflik regional yang saat ini berlangsung berpotensi mengalami eskalasi atau transformasi dalam beberapa tahun ke depan:
| Konflik | Status Saat Ini | Risiko Eskalasi |
|---|---|---|
| Rusia-Ukraina | Perang konvensional terbatas | Sedang (jika meluas ke NATO) |
| Timur Tengah | Konflik proksi + ketegangan Iran-Israel | Sedang-Tinggi |
| Taiwan/Indo-Pasifik | Ketegangan strategis + kompetisi teknologi | Tinggi (jika status quo berubah) |
| Korea Utara | Program nuklir + provokasi rutin | Sedang |
Perang Rusia–Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, serta rivalitas strategis di kawasan Indo-Pasifik merupakan beberapa titik ketegangan utama dalam sistem internasional. Analisis lebih lanjut tersedia dalam artikel [Konflik Rusia vs NATO: Warisan Perang Dingin yang Belum Berakhir].
Karena berbagai faktor tersebut, periode 2026 hingga awal dekade 2030-an sering dipandang sebagai masa di mana arah sistem internasional dapat mengalami perubahan yang signifikan.
VI. Risiko Konflik Global 2026–2030: Skenario dan Probabilitas
Melihat berbagai faktor tersebut, risiko konflik global dalam beberapa tahun ke depan tidak dapat diabaikan. Namun kemungkinan perang dunia dalam arti konflik global total masih relatif rendah dibandingkan dengan konflik regional.
Yang lebih mungkin terjadi adalah meningkatnya konflik regional, kompetisi geopolitik antar blok, serta penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat strategi internasional.

Konflik global abad ke-21 bersifat multidimensi. Persaingan tidak lagi hanya militer, tetapi juga ekonomi (sanksi, trade war), teknologi (AI, semikonduktor), dan energi (keamanan pasokan, transisi). Sumber: Sintesis MCE Press dari SIPRI, IEA, CSIS, dan World Bank.
Dalam banyak kasus, konflik modern tidak lagi selalu berbentuk perang militer langsung. Persaingan antar negara juga muncul dalam bentuk perang ekonomi, perang teknologi, serta perebutan pengaruh geopolitik di berbagai kawasan dunia. Fenomena ini sering disebut sebagai bentuk baru konflik global yang tidak selalu berupa perang militer langsung.
Perubahan struktur ini juga dibahas dalam analisis MCE Press mengenai Dunia Memasuki Era Konflik Global Baru: Geopolitik, Energi, dan Perang Ekonomi.
Skenario Risiko 2026–2030
Berdasarkan analisis tren sistemik, tiga skenario utama dapat diidentifikasi:
| Skenario | Deskripsi | Probabilitas* | Indikator Kunci |
|---|---|---|---|
| 1. Managed Competition (Optimis) | Rivalitas AS-China dan Rusia-Barat dikelola melalui dialog strategis, guardrails krisis, dan mekanisme de-eskalasi. Konflik regional tetap terjadi namun tidak meluas. | 45% | • Dialog militer AS-China berlanjut • Mekanisme krisis NATO-Rusia berfungsi • Tidak ada eskalasi di Taiwan/Timur Tengah |
| 2. Fragmented Order (Moderat) | Fragmentasi ekonomi dan teknologi semakin dalam. Dua blok terpisah (demokrasi vs. otoritarian) terbentuk, namun tanpa konflik militer langsung. “Perang Dingin Ekonomi” menjadi norma. | 40% | • Ekspansi friend-shoring dan kontrol ekspor teknologi • Institusi multilateral melemah • Peningkatan aliansi regional eksklusif |
| 3. Escalatory Conflict (Pesimis) | Miscalculation di Taiwan, Laut China Selatan, atau Eropa Timur memicu eskalasi yang melibatkan kekuatan besar secara langsung. Konflik regional berkembang menjadi konfrontasi strategis. | 15% | • Insiden militer langsung AS-China/Rusia-NATO • Runtuhnya mekanisme diplomasi krisis • Mobilisasi industri perang skala besar |
*Estimasi kualitatif berdasarkan analisis tren, bukan prediksi probabilistik formal. Dapat berubah seiring perkembangan dinamika global.
Apa yang Perlu Dipantau?
Untuk membaca arah perkembangan risiko, beberapa indikator kunci perlu dipantau:
🔴 Indikator Eskalasi (Red Flags):
- Peningkatan frekuensi insiden militer langsung antara kekuatan besar (misalnya: intercept pesawat, tabrakan kapal)
- Penghentian saluran komunikasi krisis (hotline militer, dialog strategis)
- Mobilisasi industri domestik untuk produksi alat perang skala besar
- Retorika politik yang menormalisasi penggunaan kekuatan militer ofensif
🟢 Indikator Stabilitas (Green Flags):
- Kelanjutan dialog strategis tingkat tinggi (KTT, pertemuan menteri)
- Kesepakatan pengelolaan krisis baru (misalnya: protokol pencegahan insiden laut/udara)
- Kooperasi dalam isu global bersama (iklim, pandemi, non-proliferasi nuklir)
- Stabilitas pasar energi dan komoditas strategis
Penutup: Membaca Masa Depan dengan Kepala Dingin
Analisis ini menunjukkan bahwa meskipun risiko perang dunia dalam arti konvensional—konflik total yang melibatkan mobilisasi global dan pertempuran langsung antar kekuatan besar—masih relatif rendah, dunia sedang memasuki era konflik global yang lebih kompleks dan multidimensi.
Poin-poin kunci:
✅ Konflik regional meningkat, namun belum memenuhi kriteria historis “perang dunia”
✅ Deterrence nuklir dan interdependensi ekonomi masih menjadi penahan eskalasi utama
✅ Kompetisi strategis lebih mungkin terjadi dalam domain ekonomi, teknologi, dan pengaruh geopolitik
✅ Periode 2026–2030 krusial karena konvergensi faktor teknologi, energi, dan transisi kepemimpinan
Pertanyaan kritis yang dihadapi komunitas internasional bukan lagi “apakah” konflik akan terjadi, tetapi “bagaimana” mengelola kompetisi strategis agar tidak bereskalasi menjadi konfrontasi bersenjata yang tidak terkendali.
Bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat umum, kemampuan untuk membaca sinyal strategis, memahami dinamika sistemik, dan mengantisipasi berbagai skenario menjadi semakin penting dalam merumuskan strategi jangka panjang.
🔍 Lanjutkan Eksplorasi Anda
Artikel ini merupakan bagian dari seri analisis risiko konflik global MCE Press. Untuk pemahaman yang lebih komprehensif, lanjutkan dengan:
| Topik | Artikel Terkait | Fokus Analisis |
|---|---|---|
| 🇷🇺🇺🇦 Rusia & NATO | Konflik Rusia vs NATO: Warisan Perang Dingin yang Belum Berakhir | Dinamika keamanan Eropa, risiko eskalasi nuklir |
| 🇺🇸🇨🇳 AS & China | Rivalitas Amerika Serikat vs China: Konflik Superpower Abad ke-21 | Kompetisi teknologi, Taiwan, Indo-Pacific strategy |
| 🕊️🔥 Timur Tengah | Eskalasi AS–Israel–Iran 2026: Awal Pergeseran Tatanan Global? | Konflik proksi, energi, stabilitas regional |
| ⚡🛢️ Energi Global | Energi Dunia di Titik Rawan: Seberapa Vital Selat Hormuz? | Chokepoints energi, krisis pasokan, geopolitik minyak |
| 📉💰 Ekonomi Global | Gelombang Inflasi Kedua? Risiko Stagflasi Global 2026–2027 | Dampak geopolitik terhadap inflasi, perdagangan, investasi |
| 🌏🇮🇩 Perspektif Indonesia | Indonesia di Tengah Perang Ekonomi Global | Strategi diplomasi, ketahanan ekonomi, posisi Indo-Pacific |
📚 Referensi & Sumber Data
- Uppsala Conflict Data Program (UCDP), “Armed Conflict Dataset 2023”, Uppsala University.
- Clark, I. (2021). The International Origins of the First World War. Cambridge University Press.
- International Energy Agency (IEA), “World Energy Employment 2023”.
- CSIS Asia Maritime Transparency Initiative, “Strait of Hormuz Traffic Analysis”, 2024.
- Institute of International Finance (IIF), “Global Debt Monitor”, Q4 2023.
- IMF, “Geoeconomic Fragmentation: Trade and Investment Flows”, 2023.
- World Bank, “Commodity Markets Outlook”, April 2024.
- Federation of American Scientists (FAS), “Nuclear Notebook: Global Nuclear Weapons Inventories”, 2024.
- Arms Control Association, “Nuclear Weapons: Who Has What at a Glance”, 2024.
- World Trade Organization (WTO), “World Trade Statistical Review 2024”.
- IMF, “Geoeconomic Fragmentation and the Future of Multilateralism”, 2023.
- US Department of Defense, “Military and Security Developments Involving the People’s Republic of China”, 2023.
- IEA, “World Energy Investment 2024”.
- Arctic Council, “Arctic Climate Impact Assessment”, 2023.



