Film yang Kita Putar di Dalam Kepala

Film yang Kita Putar di Dalam Kepala - refleksi tentang pikiran, ketakutan, dan ketidakpastian hidup

Ketika ketakutan belum terjadi, tetapi pikiran sudah lebih dulu menjalani semuanya.

Sebagian besar ketakutan dalam hidup tidak pernah benar-benar terjadi.

Namun anehnya, banyak di antaranya tetap berhasil mencuri ketenangan kita.

Kita membayangkan kegagalan sebelum mencoba. Kita membayangkan penolakan sebelum bertanya. Kita membayangkan kehilangan sebelum sesuatu benar-benar hilang. Kita membayangkan berbagai kemungkinan buruk seolah-olah semuanya sudah pasti akan terjadi.

Padahal kenyataannya belum tentu demikian.

Sering kali, yang membuat kita lelah bukanlah apa yang sedang terjadi, melainkan apa yang kita bayangkan akan terjadi. Seolah-olah ada layar bioskop di dalam kepala yang terus memutar berbagai skenario tentang masa depan. Dan tanpa sadar, kita memperlakukan film itu seperti kenyataan.

Jauh sebelum mengenal istilah overthinking atau kecemasan, saya pernah mengalami hal yang sama saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ketakutan yang Tidak Muncul Tanpa Alasan

Sejujurnya, ketakutan itu bukan muncul tanpa alasan.

Saat kecil, saya termasuk anak yang cukup sering berkelahi. Kadang karena membela diri. Kadang karena hal-hal sepele yang bagi anak laki-laki saat itu terasa sangat penting.

Kadang saya menang. Kadang saya kalah.

Tetapi seperti banyak perkelahian masa kecil lainnya, urusannya jarang benar-benar selesai pada hari itu juga. Saya tidak pernah benar-benar tahu apakah lawan yang tadi bertengkar masih menyimpan dendam atau tidak. Saya tidak tahu apakah besok semuanya sudah dilupakan atau justru baru dimulai.

Akibatnya, saya memiliki lebih banyak urusan yang belum selesai daripada yang saya sadari.

Dan setiap kali pulang sekolah, semua kemungkinan itu ikut berjalan bersama saya.

Saya masih ingat perasaan itu. Ketika bel sekolah berbunyi, teman-teman berlarian pulang tanpa banyak pikiran. Sementara saya sering keluar gerbang dengan lebih hati-hati. Mata memperhatikan jalan di depan, telinga menangkap suara langkah di belakang.

Kadang saya sengaja memperlambat langkah. Kadang justru mempercepatnya. Seolah-olah sedang menjalankan misi rahasia yang hanya saya sendiri yang tahu.

Jalan Pulang yang Terasa Tidak Pasti

Perjalanan pulang yang sebenarnya biasa saja bisa terasa seperti wilayah yang tidak pasti.

Ada hari-hari ketika saya sengaja tidak melewati jalan yang biasa digunakan. Saya memilih memutar lebih jauh, melewati gang yang berbeda, mengambil jalan alternatif yang jarang saya lewati, atau berhenti sejenak di sebuah tikungan untuk memastikan tidak ada yang mengikuti dari belakang.

Saya sering berjalan sambil menoleh. Memperhatikan siapa yang berada di kejauhan. Mengamati apakah ada kelompok anak yang terlihat mencurigakan.

Bukan karena saya tahu ada yang sedang mengintai. Justru karena saya tidak tahu.

Dan ketidaktahuan itulah yang membuat pikiran mulai bekerja.

Bagaimana kalau mereka sedang menunggu di depan?

Bagaimana kalau ada yang membuntuti dari belakang?

Bagaimana kalau saya dicegat?

Bagaimana kalau dikeroyok?

Semakin dekat ke rumah, semakin banyak cerita yang muncul di dalam kepala.

Padahal jalanan tetap sama. Sawah tetap terbentang. Tikungan tetap berada di tempatnya. Orang-orang tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Dan sering kali, tidak ada apa pun yang benar-benar terjadi.

Tetapi di dalam kepala saya, semuanya terasa nyata.

Saya seperti sedang menonton sebuah film yang diputar berulang-ulang. Film tentang berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi sebelum saya sampai di rumah.

Hari ini saya menyadari, sebagian besar perjalanan pulang itu sebenarnya berlangsung tanpa masalah. Tetapi sebelum sampai rumah, pikiran saya sudah lebih dulu mengalami semuanya. Peristiwanya belum terjadi. Tetapi filmnya sudah diputar.

Kita Semua Pernah Mengalaminya

Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa pengalaman itu bukan hanya milik seorang anak kecil yang takut pulang sekolah.

Kita semua pernah mengalaminya. Hanya bentuknya yang berbeda.

Seorang mahasiswa belum mengikuti ujian, tetapi pikirannya sudah membayangkan kegagalan. Seorang pelamar kerja belum memasuki ruang wawancara, tetapi sudah merasa dirinya akan ditolak. Seorang pengusaha melihat penjualan menurun beberapa minggu, lalu membayangkan usahanya akan runtuh. Seorang ayah memikirkan masa depan anaknya dan membayangkan berbagai kesulitan yang bahkan belum tentu datang.

Kita tidak hanya hidup dalam kenyataan. Kita juga hidup dalam cerita tentang kenyataan. Dan sering kali, cerita itulah yang lebih memengaruhi perasaan kita.

Yang Kita Takuti Sering Kali Adalah Ketidakpastian

Jika dipikir-pikir, yang paling saya takuti saat itu ternyata bukanlah musuh-musuh saya.

Yang paling saya takuti adalah ketidakpastian.

Saya tidak tahu apa yang menunggu di tikungan berikutnya.

Dan karena tidak tahu, pikiran mulai menciptakan jawabannya sendiri.

Semakin sedikit informasi yang kita miliki, semakin mudah pikiran menciptakan cerita. Sebagian cerita mungkin benar. Sebagian lagi tidak pernah terjadi. Tetapi selama kita mempercayainya, semuanya terasa sama nyatanya.

Mungkin karena itulah manusia sering merasa lelah menghadapi masa depan.

Bukan karena masa depannya terlalu berat, tetapi karena pikirannya sudah lebih dulu menjalani berbagai skenario yang belum tentu pernah terjadi.

Membuat Cerita Lain

Yang menarik, saat itu saya tidak pernah benar-benar berhasil menghilangkan rasa takut.

Saya tetap takut. Saya tetap khawatir.

Tetapi tanpa sadar, saya melakukan sesuatu yang sederhana. Saya mulai membuat cerita lain.

Saya membayangkan berhasil melewati jalan itu. Saya membayangkan tidak bertemu siapa-siapa. Saya membayangkan sampai di rumah dengan selamat. Saya membayangkan semuanya baik-baik saja.

Hari ini saya menyadari, saya tidak sedang mengendalikan dunia di luar sana. Saya tidak bisa memastikan siapa yang akan saya temui di jalan. Saya tidak bisa mengatur perilaku orang lain. Saya tidak bisa menjamin bahwa tidak akan ada masalah.

Tetapi saya bisa memilih cerita mana yang ingin saya dengarkan.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran yang paling penting.

Sering kali kita terlalu sibuk mencoba mengendalikan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Padahal yang lebih dekat untuk kita kelola adalah cara kita memandangnya.

Membedakan Kenyataan dan Cerita

Tentu saja, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Ada masalah yang nyata. Ada risiko yang benar-benar ada. Ada kesulitan yang memang harus dihadapi.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menutup mata terhadap kenyataan. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk membedakan antara kenyataan dan cerita yang kita bangun tentang kenyataan.

Karena tidak semua yang kita pikirkan adalah fakta. Tidak semua ketakutan adalah pertanda. Dan tidak semua kemungkinan buruk akan menjadi kenyataan.

Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa sebagian besar ketakutan yang pernah saya alami tidak pernah benar-benar terjadi.

Mereka hanya datang, bermain sebentar di dalam kepala, lalu menghilang. Tetapi selama saya mempercayainya, semuanya terasa nyata.

Mungkin karena itu, salah satu pelajaran penting dalam hidup bukanlah bagaimana mengendalikan masa depan.

Melainkan bagaimana tidak terlalu percaya pada setiap film yang diputar oleh pikiran kita sendiri.

Karena sering kali, yang paling melelahkan dalam hidup bukanlah kenyataan yang sedang kita hadapi.

Melainkan cerita yang terus kita bangun tentang kenyataan itu.

MCE Press – Refleksi, Kesadaran, dan Kehidupan.



Tentang Editor

Deden Sopian Nugraha
Founder & Editor-in-Chief MCE Press

Deden Sopian Nugraha (D.S. Nugraha) adalah Founder dan Editor-in-Chief MCE Press. Berbekal pengalaman di bidang teknologi informasi, manajemen bisnis, dan pengembangan organisasi, ia menulis dan mengembangkan berbagai kajian mengenai geopolitik, ekonomi politik, kebijakan publik, transformasi industri, serta pengembangan kesadaran manusia.

Artikel ini diterbitkan di bawah supervisi editorial MCE Press.
Baca Profil Lengkap Editor-in-Chief →


MCE PRESS

Desain Ulang Pikiran & Hidup Anda.

Bergabunglah dengan pembaca MCE Press untuk menerima refleksi mingguan, rekomendasi buku mendalam, dan akses eksklusif ke konten

🔒 Tanpa spam. Batalkan langganan kapan saja.
Privacy Policy for more info.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x