Analisis ini memperdalam dimensi struktural konflik melalui lensa balance of power dan kompetisi strategis, dengan data terkini dari CSIS, SIPRI, CPEC Authority, dan laporan pertahanan regional Mei 2026.
Artikel ini adalah bagian dari cluster analisis MCE Press “Perang Afganistan dan Pakistan Akhir Februari 2026” — lanjutan dari analisis akar konflik dan pendahulu dampak perdagangan ke Indonesia.
Amerika Serikat: Dari Intervensi ke Over-the-Horizon
Penarikan pasukan AS pada Agustus 2021 mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah militernya. Namun, keluarnya pasukan tidak berarti keluarnya kepentingan.
Strategi Washington kini bergeser menjadi pendekatan “over-the-horizon”: mempertahankan kemampuan intelijen, drone surveillance, dan serangan terbatas tanpa kehadiran militer permanen. Fokus utama AS adalah mencegah Afghanistan kembali menjadi basis terorisme internasional yang mengancam homeland security & sekutu NATO.
Namun secara geopolitik, pengurangan kehadiran langsung membuat pengaruh AS di Asia Selatan tidak lagi sekuat sebelumnya. Hal ini menciptakan ruang bagi kekuatan lain untuk memperluas peran, sekaligus meninggalkan vacuum keamanan yang dimanfaatkan aktor non-state dan milisi lintas batas.
China: Stabilitas sebagai Kepentingan Ekonomi
Bagi China, Pakistan adalah mitra strategis utama melalui proyek China–Pakistan Economic Corridor (CPEC) yang bernilai lebih dari USD 60 miliar. Koridor ini menghubungkan wilayah barat China (Xinjiang) ke Laut Arab melalui pelabuhan Gwadar, menjadi tulang punggung Belt and Road Initiative (BRI) di Asia Selatan.
Instabilitas di Pakistan atau eskalasi konflik regional berpotensi mengganggu keamanan investasi tersebut. Karena itu, Beijing memiliki kepentingan langsung dalam menjaga stabilitas Pakistan dan mencegah konflik meluas. China juga khawatir ekstremisme lintas batas dapat merembet ke Xinjiang.
Namun China juga berhati-hati untuk tidak terseret langsung dalam konflik militer. Pendekatannya cenderung diplomatik dan berbasis stabilitas ekonomi: mediasi tertutup, bantuan pembangunan, & penguatan kerja sama keamanan non-konvensional.
India: Peluang dan Risiko Strategis
India secara historis memiliki hubungan dengan pemerintahan Afghanistan sebelum Taliban kembali berkuasa. Ketegangan Pakistan–Afghanistan menciptakan dilema sekaligus peluang bagi New Delhi:
Fokus: counter-terrorism, intelijen, hindari footprint permanen. Pengaruh berkurang tapi tetap kritis via QUAD & Indo-Pacific strategy.
Fokus: keamanan CPEC, stabilitas Pakistan, hindari ekstremisme Xinjiang. Investasi besar, pendekatan hati-hati.
Fokus: counter Pakistan, pengaruh di Afghanistan, sinergi Act East & QUAD. Dilema: rival melemah vs kawasan tidak stabil.
Di satu sisi, instabilitas Pakistan dapat melemahkan rival strategisnya. Di sisi lain, konflik yang meluas berisiko menciptakan lingkungan keamanan yang lebih tidak terprediksi di kawasan.
India juga harus mempertimbangkan hubungan kompleksnya dengan China. Setiap perubahan keseimbangan di Pakistan berpotensi berdampak pada dinamika India–China di Himalaya dan Samudra Hindia. Karena itu, New Delhi cenderung mengambil pendekatan strategic autonomy: memperkuat kapasitas pertahanan domestik sambil menjaga ruang diplomasi fleksibel.
Dalam sistem multipolar, konflik lokal memiliki potensi efek berantai lebih besar karena tidak ada satu kekuatan tunggal yang sepenuhnya mengendalikan stabilitas kawasan.
Asia Selatan dalam Lanskap Multipolar
Asia Selatan kini berada dalam persimpangan antara rivalitas global dan dinamika domestik. Amerika Serikat mengurangi jejak militernya, China memperluas pengaruh ekonomi, dan India meningkatkan kepercayaan diri strategisnya.
Perang Pakistan–Afghanistan menjadi ujian terhadap apakah kawasan ini mampu membangun mekanisme stabilitas regional sendiri, atau justru menjadi arena kompetisi kekuatan besar. SAARC yang selama ini stagnan semakin tidak relevan, sementara format bilateral & minilateral (QUAD, I2U2, China-Pak-Russia trilateral) semakin dominan.
Fase pasca-intervensi Amerika belum menghasilkan stabilitas permanen. Sebaliknya, ia membuka babak baru kompetisi pengaruh dan penataan ulang kekuatan. Stabilitas kawasan kini bergantung pada kemampuan aktor regional mengelola rivalitas yang semakin kompleks, bukan pada jaminan kekuatan eksternal.
Implikasi & Penutup
Konflik Pakistan–Afghanistan adalah indikator bahwa tatanan keamanan Asia Selatan sedang mengalami transisi struktural. Apakah kawasan ini akan bergerak menuju keseimbangan baru atau memasuki siklus instabilitas berikutnya akan sangat bergantung pada:
- Kemampuan Pakistan mengelola tekanan domestik & ancaman lintas batas
- Kesediaan China & India mengambil peran konstruktif tanpa eskalasi proxy
- Kapasitas diplomasi regional membangun mekanisme confidence-building yang efektif
Implikasi ekonomi dan dampaknya terhadap perdagangan Indonesia dibahas lebih lanjut dalam artikel lanjutan, “Sawit, Batubara, dan Risiko Ekspor: Seberapa Besar Dampak Perang bagi Indonesia?” Sementara refleksi mengenai posisi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global dapat dibaca dalam “Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global: Strategi Menghadapi Risiko Geopolitik.”
📚 Artikel ini bagian dari cluster Perang Afganistan-Pakistan Februari 2026
- • 1. Akar Konflik & Eskalasi
- • 2. Peta Kekuatan: AS, China, India (ini)
- • 3. Dampak ke Ekspor Indonesia
- • 4. Strategi Menghadapi Ketidakpastian Global




