Analisis ini mengupas akar konflik Durand Line, peran Taliban pasca-2021, reposisi kekuatan China-India, dan risiko instabilitas regional dengan data terkini dari Reuters, Associated Press, dan sumber regional.
Artikel ini adalah bagian dari cluster analisis MCE Press “Perang Afganistan dan Pakistan Akhir Februari 2026” — menghubungkan eskalasi konflik Asia Selatan dengan realitas perdagangan dan geopolitik Indonesia.
Akar Konflik: Durand Line, Taliban, dan Warisan Perang Panjang
Konflik Pakistan–Afghanistan tidak lahir dari kekosongan. Garis Durand—perbatasan yang ditetapkan pada era kolonial 1893—sejak lama menjadi sumber sengketa identitas dan teritorial. Afghanistan secara historis tidak sepenuhnya mengakui legitimasi garis tersebut, sementara Pakistan menganggapnya sebagai batas resmi negara.
Ketegangan ini semakin kompleks setelah Taliban kembali berkuasa di Kabul pada 2021. Penarikan pasukan Amerika Serikat mengubah arsitektur keamanan kawasan. Pemerintahan baru Afghanistan menghadapi tekanan ekonomi dan isolasi internasional, sementara Pakistan menghadapi lonjakan aktivitas Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang dituduh berlindung di wilayah Afghanistan.
Di sinilah konflik lama menemukan momentum baru. Pakistan melihat ancaman langsung terhadap stabilitas internalnya. Afghanistan menilai tindakan militer Pakistan sebagai pelanggaran kedaulatan. Ketika kedua narasi bertemu, ruang diplomasi menyempit.
Pasca Penarikan Amerika: Kekosongan dan Reposisi Kekuatan
Penarikan militer Amerika Serikat dari Afghanistan pada Agustus 2021—yang mengakhiri hampir dua dekade intervensi sejak 2001—bukan sekadar akhir perang 20 tahun. Keputusan tersebut diikuti runtuhnya pemerintahan Kabul dan kembalinya Taliban berkuasa, mengubah total arsitektur keamanan kawasan.
Selama dua dekade, keberadaan militer Amerika menjadi penyeimbang, sekaligus penekan dinamika konflik terbuka antar-aktor regional. Ketika struktur itu hilang, aktor-aktor lokal kembali menentukan arah dengan kalkulasi masing-masing.
Kekosongan tersebut menciptakan dua efek utama:
- Ruang manuver lebih luas bagi kelompok militan lintas batas — TTP, IS-K, dan jaringan lainnya memanfaatkan vacuum keamanan
- Kompetisi pengaruh baru antara kekuatan regional — China dan India berebut pengaruh di Afghanistan dan Pakistan
Artinya, konflik saat ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari fase transisi menuju tatanan regional yang lebih multipolar. Analisis lebih teknis mengenai peta kekuatan dan rivalitas strategis ini dibahas dalam artikel lanjutan, “Peta Kekuatan di Asia Selatan: AS, China, India dan Perang Pakistan–Afghanistan”.
China, India, dan Pertaruhan Keseimbangan Kekuatan
Empat aktor kunci membentuk dinamika konflik Pakistan-Afghanistan:
- Kepentingan: Stabilitas internal, kontra-terorisme TTP, kelanjutan CPEC
- Kekhawatiran: Afghanistan jadi basis militan lintas batas
- Strategi: Tekanan militer & diplomasi untuk kontrol perbatasan
- Kepentingan: Kedaulatan, pengakuan internasional, stabilitas ekonomi
- Kekhawatiran: Pelanggaran kedaulatan oleh Pakistan, isolasi global
- Strategi: Menyeimbangkan hubungan dengan Pakistan, China, & Rusia
- Kepentingan: Keberlanjutan CPEC ($60+ miliar), stabilitas Xinjiang
- Kekhawatiran: Ekstremisme lintas batas, gangguan investasi infrastruktur
- Strategi: Diplomasi ekonomi, mediasi konflik, investasi strategis
- Kepentingan: Pengaruh di Afghanistan, counter Pakistan, akses Asia Tengah
- Kekhawatiran: Pakistan gunakan Afghanistan untuk tekanan strategis
- Strategi: Bantuan pembangunan, diplomasi lunak, kerja sama keamanan
Pakistan merupakan mitra strategis utama China melalui proyek China–Pakistan Economic Corridor (CPEC) yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari USD 60 miliar dalam bentuk investasi infrastruktur, energi, dan konektivitas regional. Stabilitas Pakistan menjadi krusial bagi keberlanjutan proyek tersebut dan kepentingan strategis Beijing di Asia Selatan.
Di sisi lain, India memiliki kepentingan historis dan strategis di Afghanistan. Ketegangan Pakistan–Afghanistan berpotensi membuka ruang manuver baru bagi New Delhi dalam memperluas pengaruhnya di kawasan.
Dengan demikian, konflik ini berpotensi menjadi titik tekan dalam rivalitas yang lebih luas antara:
- China dan India di Asia Selatan
- China dan Amerika Serikat dalam persaingan global
Risiko Instabilitas Regional
Jika konflik berkepanjangan, beberapa risiko yang mungkin muncul antara lain:
- Meningkatnya aktivitas kelompok ekstremis lintas batas — vacuum keamanan dapat dimanfaatkan TTP, IS-K, dan jaringan lainnya untuk ekspansi operasional
- Gangguan perdagangan regional — rute darat Pakistan-Afghanistan-Cina Tengah merupakan koridor strategis untuk CPEC dan konektivitas Asia
- Tekanan terhadap ekonomi Pakistan yang sudah rapuh — cadangan devisa rendah, inflasi tinggi, dan ketergantungan impor energi memperburuk kerentanan
- Gelombang pengungsian dan krisis kemanusiaan — konflik berkepanjangan dapat memicu perpindahan penduduk massal ke negara tetangga
Dalam konteks yang lebih luas, instabilitas di Asia Selatan dapat berdampak pada jalur perdagangan global, proyek infrastruktur lintas negara, serta stabilitas harga komoditas tertentu. Pakistan sendiri merupakan salah satu pengimpor utama minyak sawit dunia, dengan nilai impor dari Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran miliaran dolar AS per tahun. Gangguan ekonomi di Pakistan berpotensi memengaruhi arus perdagangan komoditas tersebut. Dampak rinci terhadap sawit, batubara, dan sektor ekspor Indonesia dianalisis lebih jauh dalam tulisan “Sawit, Batubara, dan Risiko Ekspor: Seberapa Besar Dampak Perang bagi Indonesia?”
Apakah Ini Awal Siklus Baru?
Sejarah kawasan ini menunjukkan bahwa konflik jarang berdiri tunggal. Ia sering menjadi bagian dari siklus panjang ketidakstabilan.
Namun ada perbedaan penting dibanding dekade sebelumnya: dunia kini bergerak menuju tatanan multipolar. Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya penentu keseimbangan. China semakin aktif. India semakin percaya diri. Rusia juga memiliki kepentingan tersendiri.
Dalam lanskap multipolar, konflik kecil memiliki potensi dampak lebih luas karena tidak ada satu kekuatan tunggal yang sepenuhnya mendominasi stabilitas kawasan. Mekanisme diplomasi menjadi lebih kompleks ketika banyak aktor dengan kepentingan berbeda terlibat.
Pertanyaannya bukan hanya apakah Pakistan dan Afghanistan bisa berdamai.
Pertanyaannya adalah apakah Asia Selatan memiliki mekanisme regional yang cukup kuat untuk mencegah konflik ini menjadi krisis sistemik.
Penutup: Indonesia dan Pelajaran Geopolitik
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat bahwa dinamika global tidak pernah benar-benar jauh. Total perdagangan Indonesia–Pakistan dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran lebih dari USD 3 miliar per tahun, dengan minyak sawit sebagai komoditas dominan. Ketika salah satu mitra dagang menghadapi instabilitas, dampaknya—meski tidak sistemik secara nasional—tetap dapat terasa pada sektor-sektor tertentu.
Ketergantungan perdagangan, rantai pasok komoditas, dan stabilitas harga global membuat setiap ketegangan regional memiliki potensi implikasi ekonomi.
Lebih dari itu, perang ini menunjukkan bahwa perubahan struktur keamanan global selalu menyisakan konsekuensi jangka panjang. Penarikan kekuatan besar tidak menghapus konflik. Ia sering kali hanya mengubah bentuk dan aktornya.
Asia Selatan kini berada di persimpangan. Apakah konflik ini akan mereda sebagai gesekan terbatas, atau menjadi awal dari babak baru instabilitas regional, akan sangat ditentukan oleh kemampuan aktor-aktor kawasan mengelola keseimbangan kekuatan yang semakin kompleks.
Dan dunia—termasuk Indonesia—perlu membaca dinamika ini bukan sebagai berita sesaat, tetapi sebagai sinyal perubahan struktur geopolitik yang lebih dalam. Refleksi strategis mengenai posisi Indonesia dalam ketidakpastian global dibahas dalam artikel “Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global: Strategi Menghadapi Risiko Geopolitik”.
📚 Artikel ini bagian dari cluster Perang Afganistan-Pakistan Februari 2026″
- • 1. Akar Konflik & Eskalasi (ini)
- • 2. Peta Kekuatan: AS, China, India
- • 3. Dampak ke Ekspor Indonesia
- • 4. Strategi Menghadapi Ketidakpastian Global




